Selasa, 10 Mei 2016

teknik marketing DOOR-IN-THE-FACE

Teknik marketing door-in-the-face, persuasi dilakukan dengan membuat permintaan yang jauh lebih berat sebelum menyampaikan permintaan yang sebenarnya. Kalau bisa, permintaan pertama itu dibuat seberat mungkin sehingga orang yang mendengar akan kemungkinan besar menolak permintaan tersebut.
teknik marketing DOOR-IN-THE-FACE
teknik marketing DOOR-IN-THE-FACE
Nah, permintaan yang sebenarnya akan terlihat jauh lebih mudah atau sepele bila dibandingkan dengan permintaan sebelumnya. Padahal, masih lebih mudah untuk tidak mengabulkan permintaan yang lebih sepele tersebut. Nah, berlawanan dengan teknik foot-in-the-door, teknik ini membuat kamu memindahkan sudut pandangmu dari ‘menambah beban’ jadi ‘mengurangi beban’.

teknik marketing DOOR-IN-THE-FACE

Rasa bersalah untuk menolak  juga berperan dalam berhasilnya teknik ini. Karena kamu sudah menolak permintaannya yang besar hingga tidak masuk akal, kamu mungkin akan merasa bersalah dan tidak enak untuk menolak permintaannya yang kedua. Apalagi permintaan yang kedua ini sengaja dibuat tampak lebih ringan. Padahal sih sebenarnya tetap saja kamu harus berepot-repot melakukan sesuatu untuk orang tersebut.
Penelitian juga menyebutkan kalau teknik door-in-the-face ini akan lebih efektif untuk diterapkan pada teman dibanding pada orang asing. Kebanyakan orang tidak ingin dianggap sebagai teman yang buruk karena menolak permintaan teman, apalagi yang sudah ‘dimudahkan’.
Konsep ini dinamai door-in-the-face karena penolakan pertama yang dilakukan oleh orang yang dipersuasi diumpamakan sebagai membanting pintu di depan muka yang meminta. Permintaan yang telah dilebih-lebihkan itu diumpamakan segitu tidak masuk akalnya. Sampai orang yang mendengarnya membanting pintu!

teknik marketing DOOR-ON-THE-FACE
teknik marketing DOOR-IN-THE-FACE

Hal yang membedakan kedua teknik ini adalah besar permintaan pertama sebagai patokan seseorang memandang permintaan yang kedua. Dalam foot-in-the-door, permintaan pertama dibuat lebih kecil dan sepele sehingga mudah dikabulkan. Sedangkan, dalam door-in-the-face, permintaan pertama dibuat jauh lebih berat sehingga kemungkinan besar akan ditolak.
Bagaimana? Setelah mengetahui dua teknik psikologi ini mungkin kamu bisa lebih waspada saat menghadapi permintaan nih. Tapi tidak perlu jadi terlalu skeptis juga. Mereka meminta tolong pasti ada sebabnya, entah karena sesuatu yang sepele ataupun penting. Pertimbangkan hal-hal tersebut dan jangan terlalu fokus untuk menyanggah teknik yang mereka gunakan.
Ada baiknya juga dengan mengetahui dua konsep ini kamu bisa lebih bijak dalam meminta dan menghadapi permintaan. Menggunakan teknik ini bisa membantu kamu mempersuasi orang untuk melakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan disalahgunakan ya.

Yanu Sudibyo

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar